Tampilkan postingan dengan label TOKOH INSPIRASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH INSPIRASI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2016

KATOLIK DULU DAN SEKARANG, BERBEDA”
(Salut buat ketegasan Paus Fansiskus, tegas dan berani dengan suara kenabiannya)

Mungkin kita pernah membaca atau mendengar bagaimana Paus Fransiskus berbicara dengan sangat tegas sekali dan secara pribadi saya juga sangat suka dengan ketegasan Paus Fansiskus ketika ia menyinggung soal uang yang di persembahkan/diberikan ke gereja.

Paus Fansiskus kembali menyatakan jati diri gereja yang sesungguhnya, dia tidak mau gereja kehilangan jati dirinya sebagai gereja, ia menyuarakan suara kenabian itu kembali dengan tegas.
Dari Vatikan Paus Fransiskus meminta agar Gereja Katolik membakar uang kotor yang dihasilkan bukan dari hasil jerih – payah manusia secara manusiawi, dia berkata :

Pope_Francis_South_Korea_2014“Saya berikan peringatan kepada para dermawan gereja yang memberikan persembahan kepada Gereja yang dihasilkan dari jerih payah orang – orang yang teraniaya, diperbudak dan pekerja dengan bayaran yang sangat rendah”.

“Saya katakan kepada mereka : ‘Silakan, ambil kembali uang Anda dan bakar’. Jemaat Tuhan, gereja, tidak membutuhkan uang kotor,”

Pemimpin gereja asal Argentina tersebut sudah berulang kali mengecam orang-orang yang memperoleh keuntungan dari perbudakan, korupsi atau eksploitasi termasuk kecaman terhadap mafia mulai dari Italia hingga Meksiko.

Dan pada thn 2014, Paus mengusir semua anggota mafia dari Gereja Katolik dan mengutuk mereka agar disiksa di neraka.
Wah, hebat sekali Paus Fansiskus, dia berani bicara seperti itu …. Salut sekali dengan ketegasan dan pengertian yang baru yang diutrakan oleh Paus Fansiskus ini. Makanya saya berani berkata katolik dulu dan sekarang sudah kauh berbeda dan saya mau berkata jangan samakan Katolik dulu dan Katolik yang sekarang, sudah beda, malah lebih jauh berbeda dari gereja yang ada – ada saja … hehehe.

Salam, Selamat sore. PKU 17/03/2016.

Jumat, 11 Maret 2016

AHOK SEPERTINYA SAMA SEPERTI RAJA YOSIA “REFORMASI TOTAL” 2 Taw 34 : 1 – 8

AHOK SEPERTINYA SAMA SEPERTI RAJA YOSIA
“REFORMASI TOTAL”
2 Taw 34 : 1 – 8

ahok-3Sebenarnya saya tidak tau berbicara tentang politik, tapi hari – hari ini saya melihat banyak orang berbicara tentang sosok Ahok. Ada rakyat yang sangat mengharapkan Ahok kembali memimpin DKI dan di sisi lain ada pihak yang sangat menentang Ahok ?

Saya memang tidak dapat berkata banyak tentang Ahok. Tapi kesimpulanku dari sekian banyak berita tentang sobat ini, kenapa begitu banyak penantang kepemimpinannya, adalah karena Ahok telah melakukan  REFORMASI TOTAL  di seluruh  dan di dalam kepemimpinannya. Hal yang sama dilakukan oleh tokoh Alkitab yaitu Raja Yosia, seorang raja yang melakukan REFORMASI TOTAL di seluruh kerajaan Yehuda di dalam masa pemerintahannya.

Alkitab menyebutkan tidak ada raja Yehuda mana pun yang melebihi kebesaran Yosia dalam mereformasi secara total kehidupan Yehuda. Ya, dan itu memang benar adanya. Ketika Yosia mulai menjadi raja, ia memang tidak menunda apa yang dapat  ia lakukan dan melaksanakannya dengan sangat baik, yaitu memulihkan keadaan Yehuda ke jalan yang benar sehingga bangsa Yehuda kembali berkenan di mata Allah.

Karir Yosia sebagai raja memng sangat luar biasa, dan semua itu oleh karena kepatuhannya kepada Tuhan dan  seorang yang selalu haus akan kebenaran dan keadilan. Dan terbukti oleh karena kehausannya akan kebenaran  dan keadilan di usia 24 tahun dari 31 tahun masa pemerintahannya, Yosia berhasil mentahirkan seisi negeri dan rakyatnya dari penyembahan berhala dan pembangkangan terhadap hukum – hukum Allah.
Yosia berhasil membersihkan rumah Allah dari unsur-unsur kejahatan dan pelanggaran moral dan menjadikannya sakral. Dia menggiring rakyatnya pada reformasi total. Ya, reformasi sikap dan perubahan hidup, di mana di dalamnya di isi dengan pertobatan massal.

Sekali lagi, Yosia memang sangat di kenal menaati semua hukum Tuhan sebagaimana yang disampaikan Taurat dan oleh dia jugalah perayaan Paskah dan Perayaan Hari Raya Roti tak Beragi yang tidak pernah dirayakan lagi sejak zaman nabi Samuel kembali di rayakan di kerajaan Yehuda. Yosia berhasil me – REFORMASI TOTAL kerajaan Yehuda dan sebagai raja Yehuda, ia memulai setiap pekerjaanya dengan baik dan mengakhirinya dengan sangat baik (Bdk. 2 Taw 34 : 1 – 8).

Lalu apakah Ahok akan sama seperti Yosia ? melihat apa yang ia lakukan sekarang, dengan sikap kepemimpinannya yang tegas dan selalu haus akan kebenaran dan keadilan. Secara pribadi ya, mungkin Ahok akan sama seperti raja Yosia, dan akan mungkin berhasil me – REFORMASI TOTAL seluruh sistem pemerintahan yang bobrok ke arah yang lebih baik. Tidak salah Tuhan memilih Yosia menjadi raja Yehuda, dan saya rasa kali ini Tuhan tidak salah menempatkan Ahok di negeri ini menjadi seorang pemimpin.

Nah, apa hubungannya denganku ya, padahal  saya kan penduduk Riau saat ini …. hehehe. Tapi pasti ada deh hubungannya, oleh itu ya …. saya akan dukung Ahok dalam doa, semoga Tuhan selalu menyertai sobat ini, lanjutlah Hok … kalau mau menjadi Gubernur DKI lagi, kami dukung dan kalau bisa kedepannya menjadi R1 setelah Jokowi 2 kali ya jadi R1 … hehehe, jangan potong kawan di tengah jalan, kan sama – sama teman, yang cinta akan negeri ini hidup dalam damai sejahtra … hehehe.  Okelah lanjutkan, dan untuk TEMAN AHOK selamat berjuang sobat, doa kami juga bersamamu.

Eh sudah ya, kepanjuangan kali ini sudah status, hanya mau bilang REFORMASI TOTAL saja sudah selembar … hahaha. Oke … lah. Saya akhiri dan selamat malam. SAVE AHOK.

Pekanbaru 11 Maret 2016. Pdt. Israel HS Milala.

Rabu, 02 Maret 2016

John Sung, Sang Obor Asia

John Sung, Sang Obor Asia   
 
John Sung, 1901-1944, adalah anak keenam dari seorang Pendeta Gereja Methodist di China. Sseorang yang pandai dan sifatnya keras. Umur 23 tahun, John Sung telah bergelar Doktor dan menerima banyak penghargaan dalam bidang ilmu pengetahuan. Kemudian ia belajar Sekolah Theologia. Sebelum mendarat di Shanghai setelah tujuh setengah tahun belajar di Amerika Serikat, doktor Sung melempar semua ijazah dan piagam penghargaanNya ke dalam laut supaya semua itu tidak menggodanya untuk mencari penghargaan manusia. Ia mau melayani Tuhan dengan sepenuh hati, ia hanya menyimpan gelar doktor untuk diperlihatkan kepada ayahnya.

Hidup dan pelayanan doktor John Sung terjadi dalam waktu yang sangat penting bukan hanya dinegaranya tapi juga di Negara lain. Perang dunia kedua pecah sebelum John Sung meninggal, pendudukan Jepang terhadap negara-negara lain terjadi di Asia. Tuhan memakai John Sung untuk mempersiapkan orang-orang Kristen menghadapi masa penderitaan itu. Ia mengajar Firman Tuhan tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Selama kunjungannya terakhir di Indonesia, ia dalam kondisi yang sangat lemah dan hanya dpat berkhotbah sambil duduk tapi berkat pelayanan Jogn Sung masih sangat terasa sampai sekarang. Banyak gereja dibangungkan, pekabaran injil diperbaharui dan banyak jiwa dijamah.

Tanggal 27 September 1901, John Sung lahir di desa Hong Chek Propinsi Fu Jian, China. Diberi nama Yu Un artinya berlimpah anugerah.Tahun 1909, Roh Kudus mengubah hidupnya melalui KKR tentang peristiwa Yudas Iskariot di taman Getsemani. Mulai saat itu ia sering menolong Ayahnya untuk tugas-tugas Gereja dan meggantikan Ayahnya untuk berkhotbah sehingga mendapat julukan baru si Pendeta kecil lebih baik dari yang sebelumnya yaitu si kepala besar.   Tahun 1920, berangkat ke  Amerika kuliah di Universitas Weshley dan bermimpi mendapat visi dari Tuhan bahwa ia harus pergi memberitakan injil karena hanya melalui Salib Yesus semua orang dapat selamat.

Tahun 1923, John Sung lulus dari Universitas dengan hasil yang memuaskan dan mendapat gelar doktor. Pada saat itu ada seorang Pendeta yang dipakai Tuhan mengatakan bahwa John Sung lebih mirip seorang Pendeta daripada menjadi seorang ahli ilmu alam, kemudian ia masuk sekolah Alkitab dan masuk rumah sakit jiwa selama 139 hari. Disitulah ia berkesempatan membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu sampai 40 hari. Tahun 1927, John Sung kembali ke Shanghai dan menyatakan pada keluarganya bahwa ia sudah menyerahkan diri dan hidupnya untuk memberitakan injil.   

Tahun 1930, John Sung memulai pelayanan dikampung halamannya dan banyak orang bertobat menerima Tuhan Yesus. Tahun 1933, Ia mendapat mimpi bahwa Ayahnya pulang ke rumah Bapa dan sang Ayah memberi tahu bahwa John Sung masih ada sisa umur tujuh tahun lagi untuk memberitakan injil. Tahun 1935, John Sung melayani di Filipina dan Singapura. Tahun 1936, John Sung melayani di Asia Tenggara walaupun sakit paru-paru dan kesehatannya semakin menurun, tapi itu tidak menghalanginya tetap melayani Tuhan. Tahun 1939, Doktor Sung dating menuju Surabaya (Jawa Timur, Indonesia) dan mengadakan KKR dua puluh satu kali dalam seminggu. Pada saat itu ia mendapat kabar bahwa anak laki-laki satu-satunya bernama Josua pulang ke rumah Bapa. John Sung sangat sedih tapi secara iman dia bersukacita karena anaknya hidup didalam genggaman tangan Tuhan dan sekarang sudah bersamaNya. Tahun 1944, John Sung pulang ke rumah Bapa di Beijing didampingi istrinya yang setia.

Kisah John Sung ini, sepertinya memang sudah dirancangkannya dari sebelum dilahirkan dan sewaktu masih dalam kandungan sampai lahir dan sampai pada akhir hayatnya. Semua terjadi nyata dan sudah digariskan oleh Tuhan. John Sung tinggal menjalankan dan harus melakukan serta mewujud nyatakan kehendak Tuhan dalam kehidupan pelayanannya.

Sampai saat ini, banyak orang yang masih menantikan kabar sukacita yaitu injil keselamatan dan Tuhan Yesus meminta kita untuk berdoa memohon supaya Tuhan mengutus pekerja-pekerja dan ketika kita sedang berdoa siapa tahu mungkin kitalah yang dipanggil dan diutus oleh Tuhan.

sumber : Nafiri Kasih

Share this:

Selasa, 01 Maret 2016

Sadhu Sundar Singh “Misionaris Dengan Kaki Yang Berdarah”

Di sebelah India Utara, wilayah Bernala Patiala, pada bulan September 1889 lahir seorang anak dalam sebuah keluarga Sikh. Ia dinamai Sundar. Keluarga yang hidup berkecukupan, punya rumah bagus, makanan melimpah. Beda dengan kebanyakan tetangganya. Ibu Sundar memiliki gelar “Sikh Bakhta” yakni orang yang dianggap suci dalam agamanya. Ibunya membantunya mempelajari isi kitab suci mereka,  jadi pada umur 7 tahun Sundar sudah hafal kitab sucinya.

Sundar berusaha menjadi anak saleh, selain menghafalkan kitab sucinya dia juga mempelajari buku dari bermacam agama lain, karena agamanya mengizinkan hal itu. Dia juga belajar Yoga. Kemudian Sundar masuk ke sekolah yang dikelola misionaris Inggris. Di sanalah Sundar pertama kalinya mengenal Alkitab, meskipun dia tidak tertarik pada isinya. Namun kehidupan Sundar berubah sejak ibunya meninggal. Diceritakan waktu Sundar berusia sekitar 14 tahun. Ia jadi membenci agama Kristen dan Yesus. Ia menganggap ajaran Yesus salah. Sundar merobek Alkitab dan membakarnya, meskipun ayahnya mengingatkan bahwa ibunya dulu berkata Alkitab adalah buku yang baik.

Sundar melempari para pengkhotbah dengan batu, menganiaya orang Kristen dan mengajak orang lain melakukan hal sama. Tapi setelah bermacam agama dan ajaran itu dia pelajari, ternyata hatinya kosong.  Tetapi setelah melampiaskan kebenciannya pada kekristenan, dia juga tidak menemukan kedamaian yang diinginkannya. Sundar mulai tak nyaman dan takut. Dia merasa sedih sehingga memutuskan untuk menabrakkan diri pada kereta yang akan lewat. Tapi sebelumnya, Sundar berdoa dulu kepada Tuhan dan memohon agar Tuhan menjawabnya, pada dinihari itu Tuhan menjawab doa Sundar dengan menampakkan diriNya dalam sinar yang sangat terang dan berkata akan menyelamatkan Sundar dan mengatakan kepada Sundar supaya ia mengikuti jalanNya. Ada rasa damai luarbiasa yang dialami Sundar pada waktu itu dan tetap terasa sesudah sinar menghilang. Dan setelah penampakan itu Sundar minta dibaptis pada umur 16 (tahun 1905) di gereja Inggris di Simla. Dia memutuskan jadi Sadhu Kristen yang hidup untuk Tuhan. “Sadhu” adalah guru agama di India, mengajar dari suatu tempat ke tempat lainnya. Para Sadhu biasanya memakai jubah kuning, tidak mempunyai tempat tinggal dan harta, tidak menikah dan makanannya hanya dari orang yang memiliki belas kasihan.

Sundar ingin mengabdi pada Tuhan dan dia berpendapat inilah jalan terbaik memperkenalkan Yesus kepada pengikutnya. Saat dia menjadi orang Kristen yang taat, keluarganya tidak suka lagi kepadanya dan meminta Sundar untuk memikirkan lagi keputusannya menjadi orang kristen. Mereka menawarkan uang kepada Sundar tetapi  Sundar menolaknya dan akhir dari penolakannya itu akhirnya ayah Sundar membuat pesta perpisahan dan mengusirnya. Begitulah Sundar  tidak lagi memiliki keluarga yang menyenangkan dan makanan yang melimpah, ia menjadi terasing karena keluarga memang memang mengasingkannya dan dengan bertelanjang kaki Sundar pergi kesana – kemari mengabdikan hidup pada Yesus.

Tahun 1906, pertama kalinya dia pergi ke Tibet. Negara itu menarik perhatiannya, meskipun di sana bakal ada tentangan kuat dan hukumannya berat. Sundar berpikir bahwa di sana dia bisa punya banyak kesempatan untuk bertemu Tuhan dan mempelajari Alkitab. Sundar memulai perjalanan memberitakan firman Tuhan. Pada saat memberitakan firman ada banyak orang – orang yang ingin membunuh dan mencelakainya, ada badai salju dahsyat, padahal Sundar hanya bertelanjang kaki atau bersandal tipis amat sederhana. Ada ancaman macan tutul dan Himalaya yang sulit ditempuh, juga penganiayaan dari penduduk Tibet namun  Sundar tidak pernah membalas, tetapi malah menyanyikan atau menceritakan kasih Tuhan. Dia bersaksi, “Kehadiran Yesus selalu membawa kedamaian yang mengherankan di dalam situasi seburuk apa pun yang pernah kualami. Dia mengubah penjara menjadi surga dan beban menjadi berkah”.

Sundar jadi salah satu tokoh agama paling dikenal di India. Ia pernah bertemu Stoker seorang misionaris dan sempat belajar 2 tahun di St John School of Theology di Lahore, dan pernah berkotbah di beberapa negara sebelum melanjutkan misinya. Namun suatu kali Sundar ditangkap di Nepal dan dimasukkan ke dalam sumur tua, dengan keadaan tangan yang patah sumur dikunci. Setelah 2 – 3 hari, tiba-tiba seseorang membuka kunci sumur dan menjulurkan tali ke dalamnya dan dia pergi setelah Sundar keluar. Waktu orang yang menangkap Sundar melihat Sundar bebas dari sumur tersebut, mereka menangkap Sundar lagi dan menanyakan siapa yang mengeluarkan Sundar, karena kunci sumur masih berada di tangan mereka, tetapi kejadian itu membuat yang yang menangkap Sundar ketakutan dan akhirnya melepaskannya serta mengusir Sundar dari Nepal. Tahun 1929, Sadhu Sundar kembali terakhir kalinya ke Tibet dan menyebarluaskan firman Tuhan disana dan menghilang di Tibet, tidak ada yang menemukan jasadnya. Apakah ia jatuh ke jurang, meninggal karena sakit, dicelakakan orang, tidak ada yang tahu.  Itulah Sadhu Sundar Singh, yang dikenal sebagai : “Misionaris dengan Kaki yang Berdarah”, atau: “Jubah Kuning.

Di sadur dari Sumber : Majalah Pelangi.
Pekanbaru 21 maret 2016.