Rabu, 30 September 2015

Khotbah Minggu 04 Okt 2015. Kel 12 : 21 – 28. Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan

Khotbah Minggu 04 Okt 2015

Invocatio : I Korintus 8 : 6
Ogen : Mazmur 150 : 1- 6
Khotbah : Kel 12 : 21 – 28
Tema : “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan”

Shalom.
Sebelum memulai khotbah ini, saya ingin mengatakan, jika seandainya kita di tanya, siapakah kita ? tentu kita akan menjawab, kita adalah anak – anak Tuhan, kita adalah pengikut Kristus, kita adalah murid Kristus, benar sekali dan jika itu adalah jawapan kita maka kita tentu akan juga hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Karena ketika Yesus datang ke dunia Ia juga tidak hanya menjadi juru selamat manusia, tetapi juga hidup memberikan keteladanan dalam semua kehidupan.
Kita adalah anak – anak Allah dan murid Kristus yang lebih dari sekedar orang percaya yang diselamatkan tetapi juga harus seperti Dia yang benar-benar berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Memang proses pembentukan untuk menjadi serupa seperti karakter Kristus tersebut memanglah tidak mudah, tidak terjadi secara instan. Tetapi walau demikian bukan itu yang menyurutkan semangat kita untuk hidup seperti yang dikehendaki Allah, karena kita tau juga bahwa setiap kita berkeinginan melakukan kehendak Allah, maka Ia juga bersama dengan kita dan marilah tetap berjuang untuk serupa seperti Kristus.

Serupa dan dibentuk menjadi lebih serupa dengan karakter ini jugalah yang menunjukkan kelebihan diri kita sebagai orang kristen dibandingkan dengan yang lain. Banyak agama mengutamakan jasa, kehebatan perbuatan dan kebaikan manusia, sehingga manusia bisa ditonjolkan dan mudah – mudahan mendapat tempat di sisi Tuhan. Kita bukanlah demikian, karena kita melakukan segala perbuatan baik kepada sesama manusia bukan karena menginginkan jasa atau mendapatkan tempat disisi Tuhan, tetapi karena kita memang adalah anak Tuhan yang memiliki jiwa dan karakter seperti Bapa dan inilah yang dimaksudkan tema ibadah kita pada minggu ini diaman perbuatan – perbuatan Allah menjadi adat dan budaya dalam Kehidupan kita sehari – hari sebagai anak – anak Allah.
Bahan khotbah minggu ini Kel 12 : 21 – 28, meperlihatkan kepada kita bahwa bangsa Israel mematuhi segala perintah yang diberikan Allah kepada mereka dan menjadikan peritiwa pelepasan dari Mesir itu menjadi kebiasan mereka dan mewariskannya sebagai sebagai sejarah kepada anak cucu mereka dan menjadi sebuah perayaan keagamaan sebagai tanda kepatuhan kepada Allah (Ibr 11 : 28). Ada pun beberapa tindakan Allah yang dapat kita lihat dalam peristiwa pelepasan Israel dari Mesir, dimana tindakan dan perbuatan Allah itu menjadi teladan dalam kehidupan kita pada jaman ini anatara lain :
  • Kel 12 : 21 – 28 memang mengisahkan tentang perayaan Paskah yang dilakukan oleh Israel atas perintah Tuhan. Dimana perayaan itu dilakukan sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan atas Mesir, Tuhan memerintahkan Israel untuk menyembelih anak domba dan memakannya bersama dengan roti yang tidak beragi. Perayaan Paskah ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas perbuatan Tuhan bagi Israel, yang akan membebaskan mereka dari Mesir. Kekuasaan Tuhan yang luar biasa ini telah disaksikan oleh Israel, mulai dari tulah yang pertama sampai tulah kesembilan. Peringatan ini merupakan peringatan baru dalam kehidupan orang Israel. Namun demikian, peringatan ini harus dilakukan terus-menerus agar nantinya keturunan Israel senantiasa mengingat kuasa Tuhan yang telah mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Dalam Perayaan Paskah ini orng Israel melihat kekuasan Allah. Tapi apakah hanya kuasa Allah ? tidak ! karena di dalam kuasa Allah itu sebenarnya ada yang paling utama yaitu “KASIH” yang diberikan Allah kepada umatNya. Allah memiliki kasih yang sangat besar sehingga Ia melakukan segala hal untuk melepaskan bangsaNya yang tertindas, jadi kasihNya-lah yang mendasari Allah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.
  • Bangsa Israel dilepaskan dari Mesir, menunjukkan sifat Allah yang “PEDULI” terhadap orang – orang yang menderita. Dimana sifat peduli itu telah mengubah secara drastis kehidupan bangsa Israel yang menderita di Mesir dari perbudakan menjadi bangsa yang bebas dari penindasan dan penderitaan. Dimana sikap peduli itu juga tidak berhenti hanya pada sikap peduli tetapi juga di diwujudkan dalam “TINDAKAN” menuntun bangsa Isarel menuju kebebasan baru setelah ratusan tahun diperbudak.
  • Dengan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, hal ini juga memperlihatakan bahwa Alllah menunjukkan diriNya adalah Allah yang “MENGAMPUNI” yang mengampuni segala kesalahan orang Israel yang telah melupakan Allah sebagai Allah mereka ketika hidup di Mesir, yang melupakan mereka adalah keturunan dar Jusuf yang sangat takut akan Tuhan. Namun walau demikian Allah tetap menunjukkan diriNya adalah sebagai Allah yang mengampuni sehingga Allah tidak mengingat akan dosa – dosa bangsa Israel.
  • Setelah diperbudak selama empat ratus tiga puluh tahun, Allah mendatangkan sembilan kali tulah yang memerdekan Israel dari Mesir. Disini Allah yang disembah orang Israel memperlihatkan diriNya sebagai Allah yang sangat cinta akan keadilan untuk orang yang tertindas. Oleh itu jugalah yang diperlihatkan dalam peristiwa keluaran ini sebagai Allah “PENEGAK KEADILAN”.
  • Sifat Allah yang lain dalam bahan khotbah kita minggu ini, memperlihatakan kepada kita bahwa Allah sangat menentang sikap “PERBUDAKAN” dan dengan pembebasan bangsa Israel dari Mesir ini kita melihat bahwa Allah menghendaki agar manusia bisa saling mengasihi satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada sistem perbudakan (bd. Kel 21 : 2 ; 21 : 7 -11).
    Tema kita pada minggu ini “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan”. Tema ini benar dan mengingatkan fungsi dan tugas panggilan kita sebagai orang kristen, karena hidup kita sebagai anak Allah memang harus menggenapkan rencana-Nya, mengerjakan pekerjaan-Nya. Dengan demikian tema minggu ini sekaligus menjadi sebuah tantangan kepada kita dengan berkata “sifat Allah adalah sifatku dan aku akan melakukan segala pekerjaan yang Engkau perintahkan”.
Kita memang tidak dapat memungkiri bahwa seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, banyak terjadi perubahan kebudayaan dalam masyarakat dari berbagai sisi, seperti dari segi kebiasaan, pola pikir, prilaku, gaya hidup, cara berinteraksi atau gaya berinteraksi dan berbagai macam perubahan realitas sosial. Namun apakah perubahan itu harus merubah diri kita menjadi sama seperti dunia ?

Gereja kita GBKP menamai tahun 2015 ini sebagai “Tahun Peningkatan Sosial Ekonomi dan Budaya Jemaat” sesuai dengan Garis Besar Pelayanan (GBP) GBKP 2010 – 2015. Dalam hal ini tentu kita tidak hanya akan berbicara tentang budaya dan melestarikan budaya meperlihatkan tradisi – tradisi Karo seperti yang kita perlihatkan sekarang ini dalam kegiatan – kegiatan gerejawi. Tetapi kita harus melihat lebih jauh dari itu !. Bukankah kita melihat sekarang ini telah terjadi menipisnya rasa solidaritas dalam kehidupan, menguatnya kecendrungan melakukan nepotisme, fanatisme kelompok (primordial), kolusi, gampang pecah dan banyak hal lagi yang telah menjadi budaya yang kurang baik dalam kehidupan bergereja. Bukankah seharusnya kita melakukan hal yang lebih dari itu dengan memperlihatkan ciri kehidupan Allah dalam kehidupan kita sehari – hari dengan meningkatkan nilai – nilai keadilan sosial, peduli, solidaritas berdasarkan potensi yang kita miliki. Artinya kita tidak hanya ingin berbicara tentang budaya dan memperdebatkan apakah budaya yang mempengaruhi agama atau agama yang mempengaruhi budaya seperti yang dituliskan Helmut Richard Niebuhr (1894-1962) seorang etikus dari Yale University, Amerika Serikat yang menyebut ada lima bagan tentang sikap kekristenan terhadap kebudayaan dalam bukunya “Christ and Culture” yaitu : Paralel, Kontradiksi, Akomodatif, Transformatif, Asimilatif. Kita sering hangat membicarakan pandangan ini padahal sebenarnya kita hanyalah berusaha memperdamaikan kekristenan dengan kebudayaan. Sebenarnya bukan itu yang diperlukan saat ini, sebab sebenarnya yang perlu saat ini adalah bagaimana kita memperlihatkan “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan” kita sebagai warga GBKP.

Amin.
Pekanbaru 01 Okt 2105.

Senin, 28 September 2015

Suplemen PJJ Tgl 27 – 03 Sept 2015. “Erberita Dingen Ersaksilah” Perb 26 : 16 – 18

Suplemen PJJ Tgl 27 – 03 Sept 2015.

Tema : “Erberita Dingen Ersaksilah”
Ogen : Perb 26 : 16 – 18

Shalom.

Paulus sebage perberita simeriah naksiken man banta nina “Situhuna labo lit hakku ermegah ibas meritaken berita si meriah e, sabab terpaksa kap aku. Janah cilaka kel aku adi la kin kuberitaken berita si meriah e” ras malem kel min ate adi bagi pengakuan Paulus enda jadi pengakunta ibas paksa genduari enda sebage pengikut Kristus, ninta ka pe min arusna “… cilaka kel aku adi la kin kuberitaken berita si meriah e dingen rutang siakap dirinta adi la siberitaken berita si meriah e” (I Kor 9 : 17 ; 11 : 16).

Paulus memang cukup terkenal sebage rasul perberita si meriah dingen naksiken kerina kegeluhenna guna berita si meriah. Perlu pe iakap situriken sitik singkat kerna sejarah Paulus, gelah alu bage banci pe si ertiken tema ras oraten PJJ – nta sekali enda :
  • Paulus tubuh itengah – tengah keluarga Yahudi si tubuh i Tarsus propinsi Kilikia (Perb 21 : 39) jenari nggeluh ibas pengajaren agama Yahusi si cukup ketat ndalanken peraturen agama (Flp 3 : 4 – 6), keluargana pe cukup berada, ia sendiri pe ndatken hak sebage waraga kenegaran Romawi (Rom 22 : 28) ras memang kepatuhenna nandangi hukum agama Yahudi la i sangsiken, erkiteken Paulus sendiri mbelin iteruh pengaruh Gamaliel pemimpin sekolah guru “rabbinic” kalak Yahudi.
  • Ope denga mengalami pertobaten paulus memang terang – terangen menentang ras menganiaya kegeluhen kalak kristen (Perb 9 : 2, Gal 1 : 13), tapi kenca pertobatenna Paulus jadi sekalak si semangat kel ibas ersaksi kerna berita si meriah dingen jadi pembela nandangi berita si meriah e sendiri (I Kor 2 : 7 ; 4 : 1, Rom 16 : 2, Perb 9 : 1 – 20 ; 22 : 1 – 21 ; 26 : 2 – 23).
  • Kidekah kegeluhenna ibas meritaken berita si meriah, Paulus la pernah pilih bulu, iberitakenna berita si meriah man kerina jelma, suku bangsa, kalak terpelajar ntah kalak si la terpelajar (Perb 9 : 20 ; 13 : 5), man kalak secara perorangen ntah pe man kalak si enterem (Perb 17 : 22 – 34), man kalak si terpenjara ntah pe kalangen istana (Flp 1 : 12 – 13), lawes niari taneh Siria seh ku benua Eropa (I Kor 9 : 23), bahken pernah i turiken maka Paulus pe pang meritaken berita si meriah man raja Herodes Agripa II (Perb 26).
  • Alu bage banci si simpulken maka ibas diri Paulus erberita ras ersaksi kerna berita si meriah iakapna merupaken sada tanggung jawab kegeluhenna (I Kor 9 : 17) ras tetap nggejapken sebage utang ibas kegeluhenna guna nehkenca man kerina manusia (I Kor 9 : 17).
Tema PJJ – nta ibas minggu enda “Erberita Dingen Ersaksilah”. Penungkunenna relevan denga nge tema enda man banta ntah hanya sekedar teori nari nge ngnca ? sebab adi si perdiateken ibas kegeluhen gereja ras jemaat, geraken pebelangken berita si meriah e tempa – tempa enggo jalan di tempat ntah pe banci ikataken semangat pebelangken berita si meriah e lanai semarak bagi jaman kekristenen mula – mula. Erberita ras Ersaksi enggo tempa – tempa tergantiken alu kemeriahen – kemeriahen pesta gerejawi, ras banci jadi pe kata Dibata enggo enggo hanya semacam pemuas nafsu manusia ras lebih ngeri kata Dibata enggo ijadiken semacam alat guna mpebayak diri kalak si beluh memanfaatkenca. Gereja (kita) banci jadi lupa nandangi “amanat agung” si isehken Yesus, ija kita arus meritaken berita si meriah : “Laweslah ku kerina bangsa manusia, bahanlah ia jadi ajar – ajarKu, peridiken ia ibas gelkar Bapa, Anak ras Kesah si Badia. Jenari ajari ia ngikutken kerina si enggo kupedahken man bandu. Janah ingetlah Aku tetap ras Kam seh ku kedungen jaman (bd. Mat 28 : 19 – 20). Ibas sienda sitik cataten saja, menurutku enggo kalak cepat kita meritaken berita si meriah asangken berita ntah gosip, umpamana, scandal, kriminal, politik, rsd. Engkai, ntah kin e enggo rincuhen kita meritaken dingen naksiken berita si bage rupana asangken kerna berita si meriah ? cuba sirenungken tabiat sie pe secara pribadi ibas kegeluhenta ras kenca lit perenungen pribadi e, lit min perubahen ibas dirinta dingen minter cuba si hubungi keluraga, temanta ntah ise gia alu HP – nta masing – masing, alu naksiken maka kita enggo nggeluh ibas kegeluhen si mbaru dingen nuriken kerna Yesus, sebage tindaken si nyata ibas kita “Eberita ras Ersaksi”.

Dage alu tema ras oraten PJJ – nta sekali enda, isingetken me mulihi gelah si sehi tugas ras panggilenta sebage pengikut Kristus dingen ngenehen kubas kegeluhen Paulus kenca pertobatenna, ija Paulus tuhu – tuhu nggeluh ibas kata Dibata ras naksiken berita si meriah man kerina jelma alu perasan er – utang nandangi berita si meriah e. Genduari enda enterem denga nge kalak si lenga ngaloken berita keselamaten, emaka perlu dage ngulihi si gerakken semngat penginjilen si enggo mulai surut e, gelah alu bage reh teremna kalak si banci iselamatken erkiteken Yesus. Alu bage ka dage ibas PJJ – nta sekali enda cuba dage si ukuri mulihi, kuja kita “Erberita ras Ersaksi” ras bahanlah rencana (program) si tepat rikut ras sasarenna, apakah e nandangi keluarganta silenga nandai Yesus ntah pe nandangi kalak sideban, Selamat “Erberita ras Ersaksi”.

Amin.
Pekanbaru 28 Sept 2015.

Sabtu, 19 September 2015

Suplemen PJJ GBKP 20 – 26 Sept 2015. “Kebaktian Ibas Jabu” Mzm 78 : 5 – 8

Suplemen PJJ 20 – 26 Sept 2015.

Tema : “Kebaktian Ibas Jabu”
Ogen : Mzm 78 : 5 – 8

Shalom.
Salah sada bentuk ungkapen kegeluhen ibas erkiniteken eme teridah ibas wujud ibadah, jenari wujud ibadah e ndatken bentukna ibas kebaktin – kebaktin. Kai kin ertina kebaktin ? secara sederhana iertiken kami eme “penyelengaran ibadah” emaka model ntah bentuk kebaktian e banci berbeda sue konteks ras situasina. Sue ras tema PJJ – nta sekali enda, lit piga – piga hal siarus sipahami guna nambahi pengangkanta, gelah alu bage, seh kai si irapaken tema PJJ – nta enda man banta eme erbahan kebaktin ibas jabu.
  • Ibadah eme “persekutuan” antara manusia ras Dibata, janah simenjadi dasar “persekutuan” e labo erkiteken iketen hubungan timbal balik yang saling menguntungkan (mutualisme) tapi erkiteken inisiatif Dibata sendiri. Alu bage ibadah e eme“respon” manusia nandangi keleng ate Dibata si enggo si isehkenNa man manusia.
  • Ibadah pe banci iertiken cara kalak sitek guna menungkapken keriahen kegeluhen/pengataken bujur manusia man Dibata, ija manusia enggo nggejapken karya keselamaten si isehken Dibata man manusia. Hal sienda banci sibandingken ras ibadah si ilakoken kalak Israel ibas setiap kegeluhenna. Sejarah PL nuriken, kalak Israel ngelakoken peribadahenna man Dibata, erkiteken bangsa e enggo nggejabken belinna keleng ate Dibata man bangsa e, menaken bangsa e ndarat i Mesir nari seh bengket ku taneh Kanaan. Jadi ibadah ibas kalak Isarel eme pengulangan ntah menghadirken kembali kerna karya keleng ate Dibata si enggo inanamina ibas kegeluhen, emaka ibadah e tuhu – tuhu sebage ungkapen pengataken bujur man Dibata.
  • Secara umum lit dua model ibadah : sipemena eme ibadah Devosional ilakoken secara pribadi, emaka bentuk ibadah enda la teriket kubas waktu, tempat ras tata ibadah. Tapi lebih fokus kubas perenungen ras kesadaren diri. Ibadah enda biasana ilakoken ibas bentuk saat teduh, meditasi, rekoleksi, kontemplasi, rsd, si ilakoken secara pribadi ntah ras keluarga. Sipeduaken eme ibadah Liturgis. Pelaksanan ibadah enda lebih menyangkut kubas kebersamaan/persekutuan gia la menghilangken unsur pribadi. Emaka ibas ibadah liturgi umumna lit alur peribadahen siarus i ikuti guna banci ngaturken kebersamaan ibas ibadah e. Alur ibadah e itetapken sue ras situasi kondisi peribadahen e sendiri (iaturken ntah rikitken tradisi gereja).
Mzm 78 : 5 – 8 sijadi bahan oratenta sekali enda encidahken man banta uga pentingna persadaan ras Tuhan, si tetap sue ras konteks kegeluhenta sigenduari. Lit pe piga – piga hal si isingetken oraten PJJ – nta sekali enda man banta eme :
  • Mzm enda ncidahken pengalamen kegeluhen bangsa Israel, si ncidahken belinna keleng ate Tuhan nandangi bangsa Israel ibas perdalanen ndarat i Mesir nari, ija ibas kerina perdalanen kegeluhen bangsa e, Dibata nge sitetap menjamini ras sitetap nemani. Alu bage pe Mzm nuriken maka kalak Israel arus nggejapken kuasa ras keleng ate Dibata ibas setiap sendi kegeluhen janah erkiteken sie me maka bangsa Israel la banci melupaken Dibata.
  • Ibas kerina pengalamen kegeluhen sibage rupana me, maka kalak Israel la banci lupa, janah kerina sie arus iajarkenna man kerina anak – anakna terus ku kempu – kempuna, gelah alu bage kerina kesusuren kalak Israel meteh maka Dibata me simereken keselamaten man bangsa e ras arus dage tetap ngataken bujur man Dibata.
  • Kalak Israel meteh maka ingana ngataken bujur e me Dibata simada kuasa, erkiteken sie me maka kerina pengataken bujur e isehken alu erbakti man Dibata (kebaktin/ibadah) ras erbakti e ilakoken subuk secara bersama bagepe ibas jabu. Janah sieteh pe maka kalak Israel nggeluh kin ibas alam kerohanianna, erkiteken sie me saat kalak Israel erpenggejapen kai pe si jadi ibas kegeluhenna Dibata.
  • Alu bage banci si simpulken, kalak Israel memang kalak si nggeluh ibas alam kerohanianna janah tuhu – tuhu nggejapken kerina kegeluhenna Dibata me singaturkenca. Erkiteken sie me maka kalak Israel tetap ngataken bujur man Dibata ibas kai pe, si iungkapkenna ibas ibadahna man Dibata subuk secara bersama – sama ntah pe secara pribadi. Kita pe kalak singgeluh ibas ras persadaan Dibata kap, erkiteken Kristus Yesus enggo nebusi kegeluhenta, emaka patut nge kita ngataken bujur man Dibatanta janah tentu pe ateta tetap i temanina Dibata ibas kerina dampar kegeluhenta. Ibas sie kerina, arus dage sirembakken dirinta kempak Dibata sebagai respon ras bentuk pengataken bujurta man Dibata si ilakoken arah kerina bentuk – bentuk ibadahta (nen pengetin ibadah, devosional & Liturgis).
Tema PJJ – nta “Kebaktian Ibas Jabu” memang tuhu erguna kel si lakoken ibas jabu, piga – piga hal pentingna ngelakoken ibadah (kebaktin) ibas jabu sibanci isingetken kami ijenda eme :
  • Ibadah (kebaktin) ibas jabu e erbahanca kita tetap membina hubungennta ras Tuhan seh maka kita pe tetap nggeluh ibas alam kerohanianta.
  • Ibadah (kebaktin) ibas jabu sebage sarana ras proses terjadina pertumbuhen kiniteken, nilai – nilai kegeluhen, kepribadian ras prilaku ibas kerina anggota jabu.
  • Ibas sisi sideban pe ibadah (kebaktin) ibas jabu pe erfungsi guna mpesikap hubungen keluarga si enggo mungkin banci jadi lit keretaken ntah pe hubungen si lanai harmonis.
  • Sitik cataten man banta, bagi isingetken Dr. Andar Ismail ibas bukuna, “Selamat Berbakti” Ibadah (kebaktin) keluarga pe banci mebahayaken, khususna man anak – anak kitik. Bapa ras nande man anak – anak eme personifikasi Dibata ibas kerina kegeluhenna. Emaka adi dikune ibadah e la sue ras teladan si ilakoken bapa ntah nande ibas kerina dampar kegeluhenna, maka banci jadi, bagi gambaren bapa ras nande e me anak – anak menggambarken Dibata, emaka sue lah min kerina perbahanen orang tua ibas kerina dampar kegeluhen, gelah alu bage kai siajarken orang tua man anak – anakna tuhu – tuhu kerina e jadi teladan ibas kegeluhenna.
Selamat ngelakoken ibadah (kebaktin) ibas jabu ras malem me ate jabu singelakonca, sebab ibas jabu sibage me nggeluh kata Dibata erkuasa dingen nggejapken uga belinna ras ulina pengaruh kata Dibata si iajarken ibas jabu nandangi kerina kegeluhen anak – anak.

Amin.
Pekanbaru 19 Sept 2015.