Rabu, 18 November 2015

ANTARA IBADAH NATAL DAN PESTA NATAL

ANTARA IBADAH NATAL DAN PESTA NATAL
Pdt. Israel H S Milala. STh.

Tulisan ini bisa jadi tidak enak untuk dibaca karena memang sifatnya menyoal terhadap perayan besar yang sering kita agungkan di bulan Desember. Mungkin sahabat akan berikir saya terlalu banyak berbicara yang bukan – bukan dan mungkin akan menyoal kembali maksud tulisan ini dengan berbagai argumen atau barangkali menyebabkan tidak suka kepada saya atau barangkai tidak mengucapkan lagi selamat natal. Tapi inilah pandangan saya tentang perayaan natal kita. Dan jika Tulisan ini tidak berkenan bagi Tuhan sang pemilik natal, semoga Ia mengampuni saya sebagai hamba-Nya.

PERLUKAH PERAYAAN PESTA SEPERTI INI ?
Natal … Memang sudah tak terasa dan semakin dekat perayannya. Kesibukan akan dimulai panitia natal mulai bekerja, gereja, rumah, mall, pasar – pasar mulai dihiasi pernak – pernik natal dan seperti biasanya pesta natal itu diharapkan dapat terlaksana dengan meriah hingga bahkan bisa saja sangat duniawi.

Terkadang saya berpikir ; Perlukan perayaan dan Pesta natal dimana nuansa duniawinya sangat terasa ?. Kenapa saya berkata Perlukah perayaan seperti ini ? lihatlah sekarang bagaimana gereja – gereja yang hanya mengandalkan ibadah spektakuler yang didalamnya orang – orang kristiani bersorak – sorai memuja hadirat Tuhan, tetapi lihat juga adakah perubahan yang mendalam yang membaharui setelah perayaan natal tersebut ?

MELIHAT NATAL BERSAMA NABI YESAYA.
Mari melihatlah bersama nabi Yesaya, ketika ia berkata dalam pasal 2 tentang : “apa yang terjadi di surga dan yang terjadi di bumi”. Yerusalem beria – ria dengan persembahan domba dan lembu mahal, perayaan – perayaan rutin yang sangat fantastis ? tapi ironis ! melihat semuanya itu. Yesaya mengatakan, Yang Mahakudus mencela karena jijik ; “Aku benci melihatnya! Tanganmu penuh dengan darah!” bahkan Allah bahkan menyetarakan Yehuda dengan manusia Sodom dan Gomora ! “Inilah kesalahan Sodom … kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin” (Yehezkiel 16:49). Yesaya mengatakan Allah tak terkesan dengan ibadah, perayaan atau persembahan memang sangat hebat namun penuh kemunafikan, meski ada kemegahan di dalam tembok rumah ibadah, kesengsaraan dan kemiskinan masih bercokol di luar tembok Yerusalaem.

Dalam hal ini aku hendak mengatakan, lihatlah ! Sekian tahun gereja bertumbuh, bukankah pertumbuhan iman jemaat hanya jalan ditempat, bukankah semakin lama kita bersama di dalam gereja semakin banyak perseteruan, kecongkakan, keangkuhan, yang miskin tetap miskin dan yang kaya semakin kaya dan kondisi orang-orang di jalanan (masyarakat) tak banyak berubah ? Bukankah ini yang dikatakan Yesus tentang “Garam” yang tak lagi asin dan “terang” yang sudah redup nyalanya ? Atau barangkalai dengan sengaja kita melupakan pesan nabi Yesaya dalam setiap perayaan gerejawi, tidakkah kita melihat Tuhan menghardik umat-Nya yang merasa diri tengah baik – baik saja ? Jikalau bisa dan tulisan ini memberi makna kepada kita, mungkin aku juga akan berkata, marilah “Singkirkan perayaan yang penuh kemunafikan itu, mari beribadah dan merayakan natal dengan kesederhanaan, hikmad dan lebih kepada memaknai akan kehadiran Yesus di dunia. Cukup sudah kita kita berbicara tema natal yang sentralnya hanya kepada :
  • Berapa biayanya ?
  • Dari mana sumber dananya ?
  • Dimana tempatnya di hotel atau di gereja?
  • Siapa pengkhotbahnya kelas atas atau kelas bawah ?
  • Siapa artisnya lokal atau ibu kota ?
  • Apa makanannya Prasmanan atau kotak ?
  • Bagaiaman kado natalnya ?
  • Apa hiburannya, band atau keyboard ?
  • Siapa yang di undang Pejabat atau pimpinan gereja ?
  • Siapa yang menjadi sponsor calon Bupati, Gubernur atau caleg ?
  • Dsb … ?
SEDIKIT TENTANG AKU DAN MAKNA NATAL
Kenapa kita sangat menghilangkan makna natal yang sesungguhnya yang berbicara berbicara tentang penebusan, tentang kesederhanaan dan kerendahan hati ? Saya masih mengingat ketika saya dulu diundang beberapa tahun lalu awal pelayanan saya dengan jadwal yang padat sekali bisa sampai 40 X dalam sebulan, tapi itu dulu … hehehe … sekarang jadwalnya semakin sedikit tapi saya senang dan sangat jujur dengan sengaja memang menolak beberapa tawaran berkhotbah yang hanya memuaskan pendengar, karena bagiku menjadi pengkhotbah terkenal bukan lagi sebagai yang utama, tapi bagaimana menyamapaikan kebenaranNya yang sesungguhnya bukan sebagai hanya lelucon. Bagi pengkhotbah begini akan beresiko tidak akan di undang dalam banyak perhelatan …. hehehehe … dan mikirlah jika ada yang mau melakukan itu.

Kembali kepada perayaan natal tadi. Dalam banyak perayaan natal, saya memperhatikan bahwa memang acara natal yang saya hadiri, bahwa perayaan itu lbih banyak kepada nuansa duniawinya, mulai dari acara natal yang penuh dengan entertaiment, spanduk dan sponsor yang beragam, ucapan selamat dari petinggi – petinggi negeri, ada juga pajangan product makanan dan minuman dan lebih heran lagi tata acara ibadah bisa jadi ada 10 lembar tetapi 6 lembar terakhir penuh foto calon – calon pejabat serta iklan … hehehehe.

Terkadang saya juga mendengar, beberapa sanjungan yang dilontarkan oleh panitia natal, majelis jemaat atau jemaat sendiri yang berkata ; “Puji Tuhan, acara Natal kita sangat meriah. Megah, mewah, paduan suaranya mantap, penampilan operanya memukau, pengkhotbahnya luar biasa, dsb”. Sebenarnya, saat mendengar perkataan itu, saya terharu dan tertunduk, jangan – jangan Tuhan malah sedih dan menangis melihat kemewahan dan kemeriahan semuanya ini yang penuh dengan selebrasi. Jangan – jangan semua yang kami lakukan di Natal ini hanya menyenangkan hati kami, bukan untuk Tuhan.

Sahabat kita telah melupakan, bukankah dalam perayaan natal seharusnya kita lebih memikirkan tentang kedatangan-Nya nanti ? karena natal bukanlah lagi berbicara tentang bayi, tentang gembala, tentang palungan. Itu dulu ketika Ia datang menjadi bayi manusia. Dan Sang Bayi Manusia itu segera akan datang lagi. Tapi bukan bayi lagi, tapi dengan segala KemuliaanNya. Mengapakah makna Natal kehilangan maknanya mengingat akan KedatanganNya nanti ? bandingaknlah dengan apa yang dikatakan dalam Matius 24 : 29 – 30 ini : “Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda ANAK MANUSIA di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat ANAK MANUSIA itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dengan firman yang tertulis dalam Matius 24 : 29 – 30 ini, masihkah kita tidak mau merenung untuk mempersiapkan diri menyongsong kedatanganNya nanti ? masihkah dalam masa penantian itu, tetap kita rayakan dengan pesta makan dan minum yang dipenuhi dengan roh konsumerisme ? Saya rasa bukan itu caranya. Roma 14 : 17 mengatakan : “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”.

Saya mengingat beberapa hari yang lalu Nora (istriku) berkata, Pa dalam tahun – tahun natal kita tidak pernah lo memajang pohon natal dan menghias rumah kita dengan pernak – pernik natal ? saya hanya berkata kepadanya, mama, mungkin tahun ini, kita juga tidak akan memasang pohon natal dirumah dan pernak – perniknya dan kita pun tidak akan merayakan natal dengan baju baru tapi mari kita bernatal dan merayakannya dengan hati bersyukur.

Entah kenapa memang, beberapa tahun ini, jiwaku gundah gulana dan bertanya – tanya, mengapa orang – orang berlomba sibuk menyukseskan acara natal, sementara Kristus yang dirayakan kelahiranNya itu dilupakan ? Jika boleh sekali lagi saya berkata, bukankah ketika ibadah natal itu dibangun dari kelebihan, pesta mewah, makanan mahal, harta, pakaian, jabatan, dengan acara glamour, dsb, yang ketika dibawa kedalam ibadah bahwa itu telah mencuri kemuliaan Tuhan ?

RENUNGAN MEMAHAMI NATAL YANG SESUNGGUHNYA
Bacalah ini renungan yang saya copy paste dari salah satu gereja tetangngga, yang sangat baik dalam memahami natal, semoga dapat memberikan kesadaran kepada kita yang merayakan natal tahun ini :

Yesus lahir dalam kesederhanaan. Dia adalah Raja, jadi sebenarnya Dia dapat memilih tempat dimana Dia akan dilahirkan. Dia bisa saja memilih istana yang megah dan penuh keindahan, tetapi sebaliknya Dia memilih kandang dengan bau yang mungkin saja menyengat. Dia bisa saja memilih untuk diletakkan di pembaringan yang empuk, tapi Dia justru memilih palungan. Dia bisa saja memilih sutra termahal untuk menyelimuti-Nya – ingat, Dia Raja dan Tuhan – tetapi Dia membiarkan kain lampin yang kasar dan sederhana membungkus-Nya. Saat Dia lahir, bisa saja Dia mengundang pembesar dan golongan bangsawan untuk datang melihat-Nya, tetapi Dia justru memilih para gembala sebagai tamu kehormatan!

Kelahiran Kristus itu sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun anehnya Natal sekarang ini sudah identik dengan kemewahan. Kalau tidak mewah, bukan Natal namanya. Jika anggaran dana Natal tidak membengkak sampai berpuluh-puluh juta, Natal yang kita peringati serasa kurang afdol. Dengan dalih rohani, kita selalu berkata bahwa kita sedang menyambut kelahiran Raja di atas segala raja, sehingga segala pemborosan yang kita berikan tidak berarti sama sekali. Memang tidak pantas jika kita membuat perhitungan finansial terhadap Tuhan. Namun, apakah benar semua kemewahan itu untuk Tuhan, ataukah sebaliknya untuk memuaskan keinginan kita sendiri ? Bukankah sejujurnya kita sungkan dengan tamu undangan yang datang dalam acara Natal kita itu, sehingga mau tidak mau kita akan menyiapkan acara itu semewah mungkin ? Padahal bisa saja kita merayakan Natal dalam kesederhanaan tanpa mengurangi esensi Natal itu sendiri.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, saya ingin kembali ke Natal yang pertama untuk menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana suasana di Betlehem. Sementara semua penduduk desa kecil itu sudah tertidur pulas, di suatu tempat, tepatnya di sebuah kandang sederhana, terlihat Yusuf dengan Maria yang sedang menggendong Sang Mesias. Serombongan gembala datang dengan ekspresi yang belum pernah terlihat sebelumnya. Suasana di sana begitu hangat, tenang, teduh dan dipenuhi kedamaian yang tak terkatakan. Natal pertama memang diwarnai dengan kedamaian.

Dua puluh abad kemudian, Natal masih diperingati. Kisahnya masih terus diceritakan. Bahkan cerita Natal itu tampaknya tidak pernah usang. Hanya sayang, kedamaian yang menyelimuti Natal pertama berangsur-angsur hilang. Kini kita memperingati Natal, tapi tak pernah merasa damai. Sebaliknya, Natal tidak lebih dari kegiatan tahunan yang membuat kita letih. Bahkan kadang kala kita memperingati dengan kegelisahan dan kegalauan dalam hati. Kehadiran Sang Mesias tidak cukup memberi rasa tenang dan rasa aman. Berita kelahiran Juruselamat tidak sanggup menghembuskan rasa damai di hati kita. Tak heran jika Natal tidak begitu berkesan dalam hidup kita. Sama sekali tidak membekas. Bahkan berlalu begitu saja.

Jika kita mau merenungkan lebih jauh, bukankah benar bahwa makna Natal dalam pengertian yang sebenarnya telah bergeser begitu jauh ? Makna Natal yang sebenarnya diganti dengan hal – hal lahiriah. Digantikan dengan pesta pora, hura-hura, dan kemewahan yang sia-sia. Dilewatkan begitu saja, bahkan sebelum kita bisa mengambil waktu sejenak untuk berefleksi. Alangkah indahnya jika kita bisa kembali ke Natal yang pertama. Merasakan Kristus dalam kesunyian, membuat jiwa kita lebih peka terhadap suara-Nya. Merasakan Kristus dalam kesederhanaan, menggugah empati kita terhadap sesama yang hidup dalam kekurangan, yang dilanda bencana atau yang sedang dirundung kesedihan. Merasakan Kristus dalam embusan damai, mengusir jiwa yang gelisah dan galau.

Amin.
Salam dari saya dan selamat menyambut Natal.
Pekanbaru 17 Nov 2015.

Rabu, 30 September 2015

Khotbah Minggu 04 Okt 2015. Kel 12 : 21 – 28. Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan

Khotbah Minggu 04 Okt 2015

Invocatio : I Korintus 8 : 6
Ogen : Mazmur 150 : 1- 6
Khotbah : Kel 12 : 21 – 28
Tema : “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan”

Shalom.
Sebelum memulai khotbah ini, saya ingin mengatakan, jika seandainya kita di tanya, siapakah kita ? tentu kita akan menjawab, kita adalah anak – anak Tuhan, kita adalah pengikut Kristus, kita adalah murid Kristus, benar sekali dan jika itu adalah jawapan kita maka kita tentu akan juga hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Karena ketika Yesus datang ke dunia Ia juga tidak hanya menjadi juru selamat manusia, tetapi juga hidup memberikan keteladanan dalam semua kehidupan.
Kita adalah anak – anak Allah dan murid Kristus yang lebih dari sekedar orang percaya yang diselamatkan tetapi juga harus seperti Dia yang benar-benar berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Memang proses pembentukan untuk menjadi serupa seperti karakter Kristus tersebut memanglah tidak mudah, tidak terjadi secara instan. Tetapi walau demikian bukan itu yang menyurutkan semangat kita untuk hidup seperti yang dikehendaki Allah, karena kita tau juga bahwa setiap kita berkeinginan melakukan kehendak Allah, maka Ia juga bersama dengan kita dan marilah tetap berjuang untuk serupa seperti Kristus.

Serupa dan dibentuk menjadi lebih serupa dengan karakter ini jugalah yang menunjukkan kelebihan diri kita sebagai orang kristen dibandingkan dengan yang lain. Banyak agama mengutamakan jasa, kehebatan perbuatan dan kebaikan manusia, sehingga manusia bisa ditonjolkan dan mudah – mudahan mendapat tempat di sisi Tuhan. Kita bukanlah demikian, karena kita melakukan segala perbuatan baik kepada sesama manusia bukan karena menginginkan jasa atau mendapatkan tempat disisi Tuhan, tetapi karena kita memang adalah anak Tuhan yang memiliki jiwa dan karakter seperti Bapa dan inilah yang dimaksudkan tema ibadah kita pada minggu ini diaman perbuatan – perbuatan Allah menjadi adat dan budaya dalam Kehidupan kita sehari – hari sebagai anak – anak Allah.
Bahan khotbah minggu ini Kel 12 : 21 – 28, meperlihatkan kepada kita bahwa bangsa Israel mematuhi segala perintah yang diberikan Allah kepada mereka dan menjadikan peritiwa pelepasan dari Mesir itu menjadi kebiasan mereka dan mewariskannya sebagai sebagai sejarah kepada anak cucu mereka dan menjadi sebuah perayaan keagamaan sebagai tanda kepatuhan kepada Allah (Ibr 11 : 28). Ada pun beberapa tindakan Allah yang dapat kita lihat dalam peristiwa pelepasan Israel dari Mesir, dimana tindakan dan perbuatan Allah itu menjadi teladan dalam kehidupan kita pada jaman ini anatara lain :
  • Kel 12 : 21 – 28 memang mengisahkan tentang perayaan Paskah yang dilakukan oleh Israel atas perintah Tuhan. Dimana perayaan itu dilakukan sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan atas Mesir, Tuhan memerintahkan Israel untuk menyembelih anak domba dan memakannya bersama dengan roti yang tidak beragi. Perayaan Paskah ini dilakukan sebagai ucapan syukur atas perbuatan Tuhan bagi Israel, yang akan membebaskan mereka dari Mesir. Kekuasaan Tuhan yang luar biasa ini telah disaksikan oleh Israel, mulai dari tulah yang pertama sampai tulah kesembilan. Peringatan ini merupakan peringatan baru dalam kehidupan orang Israel. Namun demikian, peringatan ini harus dilakukan terus-menerus agar nantinya keturunan Israel senantiasa mengingat kuasa Tuhan yang telah mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Dalam Perayaan Paskah ini orng Israel melihat kekuasan Allah. Tapi apakah hanya kuasa Allah ? tidak ! karena di dalam kuasa Allah itu sebenarnya ada yang paling utama yaitu “KASIH” yang diberikan Allah kepada umatNya. Allah memiliki kasih yang sangat besar sehingga Ia melakukan segala hal untuk melepaskan bangsaNya yang tertindas, jadi kasihNya-lah yang mendasari Allah melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.
  • Bangsa Israel dilepaskan dari Mesir, menunjukkan sifat Allah yang “PEDULI” terhadap orang – orang yang menderita. Dimana sifat peduli itu telah mengubah secara drastis kehidupan bangsa Israel yang menderita di Mesir dari perbudakan menjadi bangsa yang bebas dari penindasan dan penderitaan. Dimana sikap peduli itu juga tidak berhenti hanya pada sikap peduli tetapi juga di diwujudkan dalam “TINDAKAN” menuntun bangsa Isarel menuju kebebasan baru setelah ratusan tahun diperbudak.
  • Dengan keluarnya bangsa Israel dari Mesir, hal ini juga memperlihatakan bahwa Alllah menunjukkan diriNya adalah Allah yang “MENGAMPUNI” yang mengampuni segala kesalahan orang Israel yang telah melupakan Allah sebagai Allah mereka ketika hidup di Mesir, yang melupakan mereka adalah keturunan dar Jusuf yang sangat takut akan Tuhan. Namun walau demikian Allah tetap menunjukkan diriNya adalah sebagai Allah yang mengampuni sehingga Allah tidak mengingat akan dosa – dosa bangsa Israel.
  • Setelah diperbudak selama empat ratus tiga puluh tahun, Allah mendatangkan sembilan kali tulah yang memerdekan Israel dari Mesir. Disini Allah yang disembah orang Israel memperlihatkan diriNya sebagai Allah yang sangat cinta akan keadilan untuk orang yang tertindas. Oleh itu jugalah yang diperlihatkan dalam peristiwa keluaran ini sebagai Allah “PENEGAK KEADILAN”.
  • Sifat Allah yang lain dalam bahan khotbah kita minggu ini, memperlihatakan kepada kita bahwa Allah sangat menentang sikap “PERBUDAKAN” dan dengan pembebasan bangsa Israel dari Mesir ini kita melihat bahwa Allah menghendaki agar manusia bisa saling mengasihi satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada sistem perbudakan (bd. Kel 21 : 2 ; 21 : 7 -11).
    Tema kita pada minggu ini “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan”. Tema ini benar dan mengingatkan fungsi dan tugas panggilan kita sebagai orang kristen, karena hidup kita sebagai anak Allah memang harus menggenapkan rencana-Nya, mengerjakan pekerjaan-Nya. Dengan demikian tema minggu ini sekaligus menjadi sebuah tantangan kepada kita dengan berkata “sifat Allah adalah sifatku dan aku akan melakukan segala pekerjaan yang Engkau perintahkan”.
Kita memang tidak dapat memungkiri bahwa seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, banyak terjadi perubahan kebudayaan dalam masyarakat dari berbagai sisi, seperti dari segi kebiasaan, pola pikir, prilaku, gaya hidup, cara berinteraksi atau gaya berinteraksi dan berbagai macam perubahan realitas sosial. Namun apakah perubahan itu harus merubah diri kita menjadi sama seperti dunia ?

Gereja kita GBKP menamai tahun 2015 ini sebagai “Tahun Peningkatan Sosial Ekonomi dan Budaya Jemaat” sesuai dengan Garis Besar Pelayanan (GBP) GBKP 2010 – 2015. Dalam hal ini tentu kita tidak hanya akan berbicara tentang budaya dan melestarikan budaya meperlihatkan tradisi – tradisi Karo seperti yang kita perlihatkan sekarang ini dalam kegiatan – kegiatan gerejawi. Tetapi kita harus melihat lebih jauh dari itu !. Bukankah kita melihat sekarang ini telah terjadi menipisnya rasa solidaritas dalam kehidupan, menguatnya kecendrungan melakukan nepotisme, fanatisme kelompok (primordial), kolusi, gampang pecah dan banyak hal lagi yang telah menjadi budaya yang kurang baik dalam kehidupan bergereja. Bukankah seharusnya kita melakukan hal yang lebih dari itu dengan memperlihatkan ciri kehidupan Allah dalam kehidupan kita sehari – hari dengan meningkatkan nilai – nilai keadilan sosial, peduli, solidaritas berdasarkan potensi yang kita miliki. Artinya kita tidak hanya ingin berbicara tentang budaya dan memperdebatkan apakah budaya yang mempengaruhi agama atau agama yang mempengaruhi budaya seperti yang dituliskan Helmut Richard Niebuhr (1894-1962) seorang etikus dari Yale University, Amerika Serikat yang menyebut ada lima bagan tentang sikap kekristenan terhadap kebudayaan dalam bukunya “Christ and Culture” yaitu : Paralel, Kontradiksi, Akomodatif, Transformatif, Asimilatif. Kita sering hangat membicarakan pandangan ini padahal sebenarnya kita hanyalah berusaha memperdamaikan kekristenan dengan kebudayaan. Sebenarnya bukan itu yang diperlukan saat ini, sebab sebenarnya yang perlu saat ini adalah bagaimana kita memperlihatkan “Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan” kita sebagai warga GBKP.

Amin.
Pekanbaru 01 Okt 2105.

Senin, 28 September 2015

Suplemen PJJ Tgl 27 – 03 Sept 2015. “Erberita Dingen Ersaksilah” Perb 26 : 16 – 18

Suplemen PJJ Tgl 27 – 03 Sept 2015.

Tema : “Erberita Dingen Ersaksilah”
Ogen : Perb 26 : 16 – 18

Shalom.

Paulus sebage perberita simeriah naksiken man banta nina “Situhuna labo lit hakku ermegah ibas meritaken berita si meriah e, sabab terpaksa kap aku. Janah cilaka kel aku adi la kin kuberitaken berita si meriah e” ras malem kel min ate adi bagi pengakuan Paulus enda jadi pengakunta ibas paksa genduari enda sebage pengikut Kristus, ninta ka pe min arusna “… cilaka kel aku adi la kin kuberitaken berita si meriah e dingen rutang siakap dirinta adi la siberitaken berita si meriah e” (I Kor 9 : 17 ; 11 : 16).

Paulus memang cukup terkenal sebage rasul perberita si meriah dingen naksiken kerina kegeluhenna guna berita si meriah. Perlu pe iakap situriken sitik singkat kerna sejarah Paulus, gelah alu bage banci pe si ertiken tema ras oraten PJJ – nta sekali enda :
  • Paulus tubuh itengah – tengah keluarga Yahudi si tubuh i Tarsus propinsi Kilikia (Perb 21 : 39) jenari nggeluh ibas pengajaren agama Yahusi si cukup ketat ndalanken peraturen agama (Flp 3 : 4 – 6), keluargana pe cukup berada, ia sendiri pe ndatken hak sebage waraga kenegaran Romawi (Rom 22 : 28) ras memang kepatuhenna nandangi hukum agama Yahudi la i sangsiken, erkiteken Paulus sendiri mbelin iteruh pengaruh Gamaliel pemimpin sekolah guru “rabbinic” kalak Yahudi.
  • Ope denga mengalami pertobaten paulus memang terang – terangen menentang ras menganiaya kegeluhen kalak kristen (Perb 9 : 2, Gal 1 : 13), tapi kenca pertobatenna Paulus jadi sekalak si semangat kel ibas ersaksi kerna berita si meriah dingen jadi pembela nandangi berita si meriah e sendiri (I Kor 2 : 7 ; 4 : 1, Rom 16 : 2, Perb 9 : 1 – 20 ; 22 : 1 – 21 ; 26 : 2 – 23).
  • Kidekah kegeluhenna ibas meritaken berita si meriah, Paulus la pernah pilih bulu, iberitakenna berita si meriah man kerina jelma, suku bangsa, kalak terpelajar ntah kalak si la terpelajar (Perb 9 : 20 ; 13 : 5), man kalak secara perorangen ntah pe man kalak si enterem (Perb 17 : 22 – 34), man kalak si terpenjara ntah pe kalangen istana (Flp 1 : 12 – 13), lawes niari taneh Siria seh ku benua Eropa (I Kor 9 : 23), bahken pernah i turiken maka Paulus pe pang meritaken berita si meriah man raja Herodes Agripa II (Perb 26).
  • Alu bage banci si simpulken maka ibas diri Paulus erberita ras ersaksi kerna berita si meriah iakapna merupaken sada tanggung jawab kegeluhenna (I Kor 9 : 17) ras tetap nggejapken sebage utang ibas kegeluhenna guna nehkenca man kerina manusia (I Kor 9 : 17).
Tema PJJ – nta ibas minggu enda “Erberita Dingen Ersaksilah”. Penungkunenna relevan denga nge tema enda man banta ntah hanya sekedar teori nari nge ngnca ? sebab adi si perdiateken ibas kegeluhen gereja ras jemaat, geraken pebelangken berita si meriah e tempa – tempa enggo jalan di tempat ntah pe banci ikataken semangat pebelangken berita si meriah e lanai semarak bagi jaman kekristenen mula – mula. Erberita ras Ersaksi enggo tempa – tempa tergantiken alu kemeriahen – kemeriahen pesta gerejawi, ras banci jadi pe kata Dibata enggo enggo hanya semacam pemuas nafsu manusia ras lebih ngeri kata Dibata enggo ijadiken semacam alat guna mpebayak diri kalak si beluh memanfaatkenca. Gereja (kita) banci jadi lupa nandangi “amanat agung” si isehken Yesus, ija kita arus meritaken berita si meriah : “Laweslah ku kerina bangsa manusia, bahanlah ia jadi ajar – ajarKu, peridiken ia ibas gelkar Bapa, Anak ras Kesah si Badia. Jenari ajari ia ngikutken kerina si enggo kupedahken man bandu. Janah ingetlah Aku tetap ras Kam seh ku kedungen jaman (bd. Mat 28 : 19 – 20). Ibas sienda sitik cataten saja, menurutku enggo kalak cepat kita meritaken berita si meriah asangken berita ntah gosip, umpamana, scandal, kriminal, politik, rsd. Engkai, ntah kin e enggo rincuhen kita meritaken dingen naksiken berita si bage rupana asangken kerna berita si meriah ? cuba sirenungken tabiat sie pe secara pribadi ibas kegeluhenta ras kenca lit perenungen pribadi e, lit min perubahen ibas dirinta dingen minter cuba si hubungi keluraga, temanta ntah ise gia alu HP – nta masing – masing, alu naksiken maka kita enggo nggeluh ibas kegeluhen si mbaru dingen nuriken kerna Yesus, sebage tindaken si nyata ibas kita “Eberita ras Ersaksi”.

Dage alu tema ras oraten PJJ – nta sekali enda, isingetken me mulihi gelah si sehi tugas ras panggilenta sebage pengikut Kristus dingen ngenehen kubas kegeluhen Paulus kenca pertobatenna, ija Paulus tuhu – tuhu nggeluh ibas kata Dibata ras naksiken berita si meriah man kerina jelma alu perasan er – utang nandangi berita si meriah e. Genduari enda enterem denga nge kalak si lenga ngaloken berita keselamaten, emaka perlu dage ngulihi si gerakken semngat penginjilen si enggo mulai surut e, gelah alu bage reh teremna kalak si banci iselamatken erkiteken Yesus. Alu bage ka dage ibas PJJ – nta sekali enda cuba dage si ukuri mulihi, kuja kita “Erberita ras Ersaksi” ras bahanlah rencana (program) si tepat rikut ras sasarenna, apakah e nandangi keluarganta silenga nandai Yesus ntah pe nandangi kalak sideban, Selamat “Erberita ras Ersaksi”.

Amin.
Pekanbaru 28 Sept 2015.